Kamis, 21 Oktober 2010


Ikat Kepala
Aksesoris Penting dalam 
Upacara Adat

Salah satu ciri budaya Dayak adalah Upacara Adat. Seperti suku-suku Dayak pada umumnya, dalam suku Dayak Laor terdapat pula berbagai upacara adat. Berbagai jenis upacara adat harus dilakukan secara sakral dan suci. Untuk menambah kesakralan itu, upacara harus dilengkapi dengan berbagai aksesoris adat, salah satunya kain pengikat kepala yang lazim disebut Sembulau Kapalo.
Sembulau kapalo terbuat dari bahan baku kulit kayu Kepuak (ribis) yang kemudian diperindahkan dengan berbagai ukiran motif khas Dayak. Saat ini, sembulau kapalo yang dahulunya menggunakan kulit kayu kepuak diganti dengan bahan kain misalnya sapu tangan, selendang dan sebagainya. Warna putih merupakan warna yang mendominasi sembulau kapalo.
Sembulau kapalo merupakan aksesesoris adat yang wajib dipakai oleh para dukun pada saat melakukan ritual adat, baik ritual adat yang berskala kecil maupun ritual adat yang berskala besar. Kewajiban untuk menggunakan sembulau kapalo ini tidak hanya berlaku untuk dukun saja, melainkan wajib bagi semua peserta yang mengikuti ritual atau pesta adat.
Dalam upacara adat tertentu, sambulau kapalo mayoritas digunakan kaum tua sedangkan kaum muda tidak begitu diwajibkan untuk menggunakan sembulau kapalo. Misalnya dalam ritual Nyapat Tanah, Ngalu Kombank Buah, Bajadi Basompat, Minum Tuak Inas dan sebagainya. Apabila peserta adat  tidak menggunakan sambulau kapalo, maka peserta yang bersangkutan akan mendapat hukuman. Biasanya hukuman itu berupa penambahan takaran tuak (tambah gayong) oleh seorang penggayong atau petugas yang ditunjuk untuk menambah takaran air tuak. Untuk menghindari hukuman tersebut, peserta dapat mengganti pangobat kapalo dengan menyisipkan daun kelapa atau daun pinang yang diambil dari dari sarang tempayan (penutup tempayan) di samping telinga.
Secara psikologis, sambulau kapalo merupakan upaya untuk memperat tali persaudaraan sesama masyarakat adat. Apabila kain sambulau kapalo sudah dikenakan di kepala seseorang, maka sebuah petanda telah berkumpul sekelompok orang untuk melakukan upacara adat. Di sela-sela upacara adat, seseorang akan berjumpa kangen dengan peserta upacara adat yang lain yang mungkin jarang bertemu. (Darwis)

Rabu, 20 Oktober 2010


Penantian 48 tahun 
Masyarakat Dayak Ketapang Terwujudkan

Kerinduan masyarakat Dayak Ketapang kepada pemimpin Dayak selama 48 tahun telah terwujudkan. Sejarah baru itu tercipta tepat pada tanggal 30 Agustus 2010 lalu, seorang putra Dayak asal Dayak Pesaguan Kabupaten Ketapang, Drs. Henrikus, M.Si. dilantik menjadi Bupati Ketapang periode 2010-2015. Henrikus yang periode sebelumnya menjabat sebagai Wakil Bupati Ketapang merupakan bupati Dayak kedua Kabupaten setelah alm. P.Y Denggol pada tahun 1972.
Semangat perjuangan masyarakat Dayak Ketapang untuk mendudukan seorang putra daerah di pucuk pimpinan Pemerintahan Daerah pada Pemilu Kepala Daerah (pemilukada) Kab. Ketapang 2010 memiliki kesamaan dengan perjuangan masyarakat Dayak Kalimantan Barat pada saat mendudukan gubernur Dayak, Drs. Cornelis, MH. pada Pemilihan Gubernur  tiga tahun yang silam. Hal tersebut dapat kita lihat dari persamaan masa penantian akan pemimpin Dayak serta memperjuangkan tokoh politik Dayak yang kedua.
Semangat persatuan masyarakat Dayak Ketapang perlu kita apresiasikan. Hal tersebut dapat kita lihat dukungan dari berbagai elemen seperti gubernur Dayak, pihak gereja, organisasi-organisasi Dayak, kaum intelektual muda Dayak/mahasiswa dan pelajar, serta  masyarakat Dayak secara menyeluruh. Drs. Henrikus, M.Si. yang berpasangan dengan Boyman Harun, SH. pada pemilukada beberapa waktu lalu terbukti banyak mendulang suara dari daerah pedalaman yang mayoritas suku Dayak. Pasangan yang didukung oleh empat partai politik yaitu PDIP, Demokrat, PAN dan PPD berhasil mengalah pasangan Yasyir Ansyari dan Martin Rantan yang mayoritas basis suaranya di daerah pesisir atau Melayu dengan masing-masing perolehan suara 116.079 dan 94.052 suara.
Kemenangan Dayak di Kabupaten Ketapang ini merupakan tonggak awal perubahan masyarakat Dayak itu sendiri. Apakah dengan terpilihnya seorang bupati Dayak dapat mengubah kondisi kehidupan masyarakat Dayak di Ketapang? Saat ini, kondisi masyarakat pedalaman/Dayak sangatlah memprihatinkan. Bertahun-tahun kekayaan alam masyarakat pedalaman dikuras habis-habisan demi kepentingan yang tidak jelas. Perkebunan kelapa sawit, penebangan hutan dan pertambangan seolah-olah menjadi penguasa kehidupan masyarakat Dayak. Kearifan lokal suku Dayak dengan perlahan-lahan sengaja dihilangkan. Di sisi lainnya, berbagai jenis penindasan dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang mengaku sebagai ”sahabat Dayak” melalui intervensi penguasa di Pemerintah Daerah seperti ketimpangan pembangunan antara pedalaman dengan pesisir. Pembangunan infrasruktur di masyarakat pedalaman masih jauh ketinggalan dibandingkan daerah pesisir, jalan-jalan dibiarkan hancur, sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan masih belum memadai serta tingkat perekonomian yang selalu rendah.
Tugas berat Henrikus lima tahun kedepan untuk merubah pola pemerintahan yang selalu bertindak tidak adil. Hal tersebut tentu saja harus dilakukan dengan profesional dan bijaksana. Semoga dengan terpilihnya bupati dari kalangan suku Dayak ini dapat merasa penderitaan masyarakat Dayak, sehingga bisa diimplementasikan melalui kebijakan pembangunan yang adil dan merata. Selamat berjuang Pak Bupati! (Darwis Alfonsus, Ketua GMPPK-Jogja asal Ketapang)

Sabtu, 16 Oktober 2010


Bupati Ketapang Kunjungi Mahasiswa Ketapang di Yogyakarta

Setelah resmi dilantik menjadi Bupati Kabupaten Ketapang periode 2010-2015 pada tanggal 30 Agustus 2010 lalu, Drs. Henrikus, M.Si menyempatkan dirinya untuk mengunjungi mahasiswa Ketapang di Yogyakarta pada tanggal 16-17 Oktober 2010.
Tujuan kunjungan mantan Wakil Bupati Kab. Ketapang periode 2005-2010 ke Kota Pelajar adalah mempererat jalinan kekeluargaan antara Pemerintah Daerah (pemda) dengan mahasiswanya. Selain Bupati, turut hadir Ibu Riniwati Henrikus, beberapa Kepala Dinas, beberapa anggota tim sukses dan anggota dewan dari partai pengusung Hen-Boy.
Bagi mahasiswa Ketapang di Yogyakarta, kedatangan Bupati di Kota Pelajar merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu. Kunjungan langsung seorang kepala daerah seperti ini tergolong langka bagi mahasiswa pendatang di Yogya. Benidiktus, Ketua Forum Mahasiswa Ketapang Bujang Dare Kayong (Bedayong) meyakini bahwa Henrikus merupakan bupati Ketapang yang pertama yang mengunjungi mahasiswanya di Yogyakarta. Para bupati pada periode-periode sebelumnya boleh dikatakan tidak pernah melakukan kegiatan seperti ini, termasuk ketika Yogya di landa bencana gempa bumi dahsyat tahun 2006 silam.
Pertemuan Bupati dengan mahasiswa Ketapang dilaksanakan di Gedung Kapodang, Penerbitan Kanisius Yogyakarta (16/10/2010). Jumlah mahasiswa Ketapang yang hadir dalam pertemuan ini mencapai 137 mahasiswa. 
Dalam sambutannya, Henrikus mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Ketapang yang telah mendukung pasangan Hen-Boy pada pemilukada lalu. Dihadapan mahasiswa, Bupati Henrikus juga memaparkan secara singkat wacana pembangunan Kabupaten Ketapang lima tahun kedepan sesuai dengan visi dan misi pemerintahan Hen-Boy. Bupati Henrikus memperkenalkan satu per satu anggota rombongan yang ikut berkunjung ke Yogyakarta.
Saat melakukan dialog dengan mahasiswa, Bupati Henrikus juga menyampaikan beberapa hal berkait dengan masalah kemahasiswaan. Bupati Henrikus mengatakan bantuan operasional dari pemda untuk mendukung berbagai kegiatan mahasiswa setiap tahunnya selalu ada. Dana itu masuk dalam pos anggaran Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Pariwisata. Namun pada saat menjabat sebagai wakil bupati periode lalu, Henrikus tidak mengetahui secara jelas arah aliran dana itu serta organisasi mahasiswa mana yang menerima bantuan itu. Menurut informasi yang dihimpun Betang dari para alumni dan mahasiswa senior, Bedayong tidak pernah mendapat bantuan dana dari pemda Ketapang untuk kegiatan kemahasiswaan. Jika akan mengadakan sebuah kegiatan, Bedayong selalu membentuk tim usaha dana untuk meminta bantuan dana kepada para alumni dan orang tua mahasiswa Bedayong sendiri.
Dalam dialog tersebut juga disinggung masalah asrama pelajar dan mahasiswa Kabupaten Ketapang di Yogya. Berkaitan dengan hal itu, kalangan mahasiswa memaparkan bahwa dari berbagai kabupaten yang ada di Kalbar, hanya kabupaten Ketapang yang belum memiliki asrama. Namun setelah mendengar tanggapan dari Bupati Ketapang, yang mengatakan bahwa perlu kerja sama antara pemda dan mahasiswa untuk mewujudkan hal tersebut. Dimana mahasiswa sebaiknya mengadakan survey lokasi dan biaya terlebih dahulu setelah itu baru diajukan ke pihak pemda. Dengan demikian, jelas hal ini akan terwujud dan direalisasikan untuk beberapa tahun ke depan dalam masa pemerintahannya. Beliau juga mengatakan kalau gerakannya lebih cepat, lebih baik lagi. Pendek kata, keaktifan mahasiswalah yang perlu untuk memepercepat terealisasinya asrama pelajar dan mahasiswa Kabupaten Ketapang di Yogyakarta. Selama ini mahasiswa Ketapang yang tergabung dalam Bedayong selalu numpang asrama Panitia Beasiswa Keuskupan Ketapang (PBS-KK) untuk melakukan berbagai kegiatan kemahasiswaan.  
Disela-sela acara dialog, Ibu Riniwati Henrikus yang memang terkenal dengan suara merdunya menyumbang sebuah lagu dangdut dengan judul “Terlena”. Para mahasiswa dan rombongan berbaur dalam suasana keakraban, berjoget ria dengan Pak Bupati. 
Acara ramah-tamah dan dialog diakhiri dengan makan nasi kotak bersama yang sebelumnya dilakukan penyerahan cendera mata kepada Pak Bupati sebagai tanda ucapan terima kasih telah mengunjungi mahasiswa Ketapang di Yogyakarta oleh GMPPK dan Bedayong. Pada kesempatan itu, Bupati Henrikus juga menyerahkan bantuan dana dari uang pribadinya kepada Bedayong.

Senin, 30 Agustus 2010


Henrikus Bupati Pilihan Rakyat Ketapang


Sejarah baru terukir dalam dunia perpolitikan di Kabupaten Ketapang tercipta. Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati secara langsung tahun 2010 harus melalui proses yang sangat panjang yaitu dilakukan dua kali putaran. Pesta demokrasi di “Negeri Bertuah” secara umum berlangsung dengan aman, damai dan demokratis. Meski terjadi riak-riak konflik, namun masih dalam batas-batas kewajaran dalam proses berdemokrasi.
Pemilukada putaran pertama (29 Mei 2010) diikuti empat pasangan calon Bupati dan calon Wakil Bupati yang bersaing ketat meraih simpati rakyat yaitu pasangan (1) Yasyir Ansyari-Martin Rantan, (2) Henrikus-Boyman Harun, (3) Mecer-Jamhuri Amir, dan (4) Ismet Siswadi-Suhermansyah. Masing-masing pasangan memperoleh suara (1) 65.607 (29,87%), (2) 58.656 (26,70%), (3) 44.753 (20,38%), (4) 50.621 (23,05%). Persentase perolehan suara yang tidak mencapai 30% plus satu mengharuskan KPUD Ketapang untuk menetapkan dua pasangan yang memiliki suara tertinggi yaitu pasangan Yasyir Ansyari-Martin Rantan (YM) dan Henrikus-Boyman Harun (Hen-Boy) untuk bertarung ulang pada putaran kedua.
Tingkat antusiasme masyarakat Ketapang menyambut pemilukada 2010 putaran pertama terbilang sangat tinggi disbanding Pemilihan Presiden (Pilpres) sebelumnya. Data KPUD menunjukan tingkat partisipasi pemilih pada pilres 2009 hanya mencapai 71,81%, sedang  partisipasi pemilih saat pemilukada 2010 72,68%. Pada pemilukada putaran kedua, tingkat keikutsertaan pemilih mengalami penurunan menjadi 66,77% atau berkurang 5,91%.
Pemilukada tahap kedua yang digelar pada 5 Juli 2010 merupakan pertarungan final antara Yasyir Ansyari-Martin Rantan dengan Henrikus-Boyman Harun. Hasil akhir menunjukan bahwa masyarakat Ketapang lebih memilih pasangan Henrikus dan Boyman Harun untuk menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Ketapang periode 2010-2015. Pasangan Hen-Boy unggul di empat belas kecamatan dengan jumlah suara dukungan 116.07 (55,24%). Sedangkan pasangan YM hanya unggul enam kecamatan atau hanya memperoleh 94.05 suara (44,76%).
Sejatinya pemilukada putaran kedua merupakan pertarungan gengsi antara dua partai besar di Kalimantan Barat (Kal-Bar) yaitu partai Golkar dan PDIP. Golkar menang di Kabupaten Ketapang sedangkan PDIP menguasai suara rakyat lingkup Kal-Bar. Selain itu, banyak pihak menganggap pertarungan antara YM dan Hen-Boy menggambarkan peta kekuatan popularitas antara dua ketua DPD partai besar Morkes Effendi dan Cornelis yang sama-sama berpeluang menjadi calon gubernur Kal-Bar 2013-2018.
Pertarungan efektivitas koalisi tambahan pun mewarnai pemilukada putaran kedua. Untuk menambah kekuatan, kedua pasangan menambah partai pengusung yang diambil dari dua pasangan yang tidak lolos. Hen-Boy berkoalisi dengan pasangan independen dan Partai Persatuan Daerah (PPD). Sedangkan YM merangkul partai Hanura pengusung pasangan Mecer-Jamhuri.
YM dan koalisi tambahannya menawarkan berbagai program kerja unggulan seperti penyediaan 10.000 lapangan pekerjaan dan pendidikan/kesahatan gratis. Hen-Boy sendiri menyusun program baru yaitu program kerja 100 hari; penghapusan metting di setiap ruas jalan dan penyelesaian kasus perkebunan kelapa sawit PT Benua Indah Group (BIG). Hasil akhir menunjukan bahwa masyarakat lebih tertarik pada program kerja yang bersifat riil dan dapat menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Ketertarikan pemilih terhadap program 100 hari kerja Hen-Boy adalah sebuah kewajaran mengingat kondisi yang paling menonjol di lapangan adalah rusaknya jalan-jalan menuju ke daerah pedalaman serta terkatung-katungnya nasib para petani perkebunan kelapa sawit PT BIG yang terancam bangkrut akibat krisis keuangan global.
Henrikus dan Boyman Harun resmi dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Ketapang periode 2010-2015 oleh Gubernur Kal-Bar Drs. Cornelis, MH. pada tanggal 30 Agustus 2010. (Darwis Alfonsus)

Rabu, 19 Mei 2010

Perolehan Suara Pemilukada 
Ketapang 2010
(Sumber: KPUD, diolah kembali oleh Darwis)


Putaran Pertama
Putaran Kedua
                                                                 Jumlah Suara
Jumlah Suara

No

Kecamatan

Y-M

H-B

M-J

I-S
Tingkat Partisipasi

Y-M

H-B

DPT
Tingkat Partisipasi
1
Delta Pawan
12.376
4.190
3.584
13.653
67,27%
21.187
9.715
51.017
62,68%
2
Muara Pawan
3.160
1.162
1.662
1.323
78,90%
4.319
2.549
9.415
74,68%
3
Matan Hilir Utara
2.324
1.007
3.099
928
72,09%
3.585
2.819
10.362
63,00%
4
Sungai Laur
3.135
3.119
2.473
1.032
77,41%
3.143
6.003
12.805
72,60%
5
Simpang Dua
959
1.609
1.368
78
76,67%
534
3.950
5.336
85,68%
6
Simpang Hulu
1.946
8.385
4.368
426
82,60%
1.268
14.932
18.506
87,94%
7
Nanga Tayap
5.446
4.334
3.370
1.984
78,95%
6.803
7.254
19.541
72,93%
8
Sandai
4.810
1.538
5.401
2.157
81,04%
6.177
5.759
17.348
69,94%
9
Hulu Sungai
273
721
5.529
207
84,54%
1.140
6.232
8.002
80,85%
10
Pemahan
665
628
434
677
77,67%
859
1.507
3.162
75,96%
11
Sungai Melayu
919
1.621
693
1.851
65,37%
1.115
3.874
5.091
62,70%
12
Tumbang Titi
2.991
5.746
1.192
2.013
72,75%
2.960
8.335
16.764
68,24%
13
Jelai Hulu
1.960
3.850
1.834
792
82,76%
1.932
6.081
10.402
78,62%
14
Marau
1.119
3.313
1.480
700
81,32%
1.130
5.141
8.287
76,90%
15
Air Upas
1.461
2.846
1.854
1.928
72,40%
1.981
5.466
7.638
66,92%
16
Singkup
523
740
556
1.432
71,86%
1.099
1.653
4.677
65,73%
17
Manis Mata
3.689
3.190
1.981
3.961
68,58%
5.889
7.015
19.034
68,96%
18
Benua Kayong
8.517
2.052
1.254
6.335
72,03%
13.462
4.703
25.707
72,55%
19
Matan Hilir Selatan
5.742
2.431
929
4.749
61,71%
9.308
4.572
22.716
62,04%
20
Kendawangan
3.592
6.174
1.692
4.375
65,18%
6.171
9.320
24.683
63,99%

Total
65.607 (29,87%)
58.656
(26,70%)

44.753
(20,38%)
50.621
(23,05%)

72,68%
94.05
(44,76%)
116.07
(55,24%)

307.297

69,77%

Putri Kedua, Maria Atira