Jumat, 21 Oktober 2011


STRATEGI SUKSES MENJADI PANITIA PSBDK IX TAHUN 2011


A.   VISI
·      TERWUJUDNYA  PANITIA YANG SUKSES MENJADI PENYELENGGARAAN PSBDK(PENYELENGGARA TERBAIK)
·      TARGET TERCAPAI (ACARA BAGUS, BANYAK DIKUNJUNGI, TUJUAN AKHIR DAPAT TERCAPAI)
·      KEPUASAN PENGUNJUNG
B.   JOB DESKRIPTION
·      PEMBAGIAN TUGAS KERJA YANG BAIK DAN DAPAT DIJALANKAN DENGAN SISTEMATIK, PENUH TANGGUNG JAWAB, EFEKTIF DAN EFISIEN
·      ALUR KERJA TERTATA RAPI (MENJUNJUNG TINGGI PROFESIONALITAS)
C.   SOLIDARITAS
·      KEKOMPAKAN TIM, LOYAL KEPADA KINERJA DAN KEBERSAMAAN (SELALU DIPUPUK DAN DIJAGA SEMANGAT KEBERSAMAAN)
D.   EVALUASI SECARA TERUS MENERUS
·      KOMUNIKASI SECARA INTENSIF, SETIAP ANGGOTA PUNYA HAK BERBICARA
E.   PENGELOLAAN DAN PENGANGGARAN DANA YANG MEMADAI
·      HARAP DIKELOLA SECARA AKUNTABLE, BERTANGGUNGJAWAB SERTA AZAS MANFAAT UNTUK KESUKSESAN GAWAI

 SYARAT PANITIA:

·         INTEGRITAS—KESESUAIAN ANTARAN UCAPAN DAN TINDAKAN
·         KAPASITAS---MEMILIKI KEMAMPUAN DALAM TIM KERJA (SALING MELENGKAPI, SALING MENGISI, SALING MENUTUP)
TAHU AKAN TUGAS DAN TANGGUNGJAWABNYA
·         LOYALITAS ---SEMANGAT LOYALITAS KEPADA PANITIA---SUKSES BERSAMA SEBAGAI PANITIA PENYELENGGARA PSBDK
·         BEBAS DARI CONFLIK OF INTEREST—MAMPU MENGIMBANGI KEPENTINGAN PRIBADI, KELUARGA, KAMPUS DENGAN TANGGUNGJAWAB KEPANITIAAN
·         TOTALITAS KERJA
·         AKSEPTIBILITAS---BISA DITERIMA SEMUA FORUM SECARA BAIK
(Panduan Rekrutmen Panitia PSBDK IX)

Kamis, 20 Oktober 2011

Pesta Seni dan Budaya Dayak Se-Kalimantan 
Oleh Mahasiswa di Yogyakarta:
Memperkaya dan Mengalami Pengayaan Makna


Pesta Seni Budaya Dayak se-Kalimantan (PSBDK) yang diadakan mahasiswa di Yogyakarta melalui organisasi-organisasi kemahasiswaan, kini menjelma menjadi ikon dan kebanggaan bersama. Sejauh ini, dalam kurun waktu 10 tahun pengamatan kami, tidak ada acara kedaerahan yang mampu terjadi secara konsisten dan berskala nasional serupa ini. Jakarta lewat Dayak Youth Community sudah pula menggelar Dayak Night, namun tetap terhitung baru.
Sejak tahun 2001-2010 PSBDK terus menjadi bola salju perjalanan keresahan mahasiswa Dayak di Yogyakarta akan eksistensi kesenian dan tradisi, yang merupakan budaya pendukung ke-Indonesiaan dan nasionalisme bangsa. Acara ini, satu dari sedikit perhelatan besar mahasiswa daerah yang berdomisili di Yogyakarta. Ia lahir bukan oleh (dugaan) fanatisme kedaerahan semata, namun merupakan sebuah cara dalam mengkritisi eksistensi budaya Dayak dan bersikap  kritis terhadap pemerintah daerah di Kalimantan dan negara ini tentang cara memperlakukan dan menghargai budaya lokal yang menjadi pilar bangsa.
Kegiatan serupa ini tidak terlepas dari perjalanan sejarah mahasiswa Kalimantan Barat di Yogyakarta, sejak berdirinya Asrama Rahadi Oesman (1951) dan Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Barat (KPMKB) pada tahun 1955. Setelah jauh berjalan asrama dan organisasi ini kini semakin  esklusif, dimana hanya kelompok tertentu saja yang terakomodir dan dapat benar-benar “nyaman” di dalamnya. Kelompok yang tidak terakomodir (baca: Dayak/non Melayu) akhirnya membentuk Keluarga Pelajar Mahasiswa Katolik Kalimantan Barat (KPMKKB) pada 1979/1981, sebagai wadah baru bagi mahasiswa, yang umumnya berasal pedalaman dan jumlahnya memang relatif kecil. Masalah ini sesungguhnya semakin mengkristal dan menjadi ancaman, namun tidak pernah dapat dipecahkan oleh mahasiswa dan sayangnya tak mendapat perhatian pula oleh pemerintah daerah sebagai potensi yang buruk bagi masa depan generasi muda Kalimantan Barat.
Dualisme ini terus bergerak hingga tahun 1980, ketika KPMKKB semakin kokoh dan bertambah personilnya di Yogyakarta. Pada medio 1980-1990an, rivalitas ini semakin tajam dan kedua organisasi ini terus berkegiatan, mengorganisir diri tanpa melihat latar belakang yang sebenarnya memilki kesamaan. Mahasiswa daerah (luar Kotamadya Pontianak) semakin banyak berdatangan ke Yogyakarta, atas kesadaran itu, KPMKKB yang tidak pernah mendapat insentif apapun dari pemerintah Kalimantan Barat dengan kesadaran sendiri melebur dan membentuk IPMKB (Ikatan Pelajar Mahasiswa Kalimantan Barat) dengan Sekretariat Bersama JC.Oevaang Oeray, yang didalamnya terdapat forum-forum kedaerahan sebagai anggota. Salah satu anggota secretariat bersama yang cukup tua usianya yaitu KSDKB (Keluarga Seniman Dayak Kalimantan Barat) yang berdiri tahun 1995, kemudian BEDAYONG (Ketapang) 1996, baru kemudian secara perlahan berdiri pula IKBKSY Sanggau, FORMAKAL Landak, FPMKKS Sintang, HPMDKH Kapuas Hulu, Fokus Mapawi Melawi, IPMKS Sekadau, FPMKB Bengkayang, Formasi Singkawang. Gejala ini dikondisikan untuk mempermudah pengorganisasian ratusan bahkan ribuan mahasiswa asal Kalimantan Barat yang menuntut ilmu di Yogyakarta saat ini. Sedangkan KPMKB (organisasi yang dianggap legal dan didanai pemerintah) tetap ada, namun vakum dan mengalami stagnasi akut. Sampai kini pun KPMKB tak mampu berbuat banyak, cenderung protektif dan tak memiliki agenda kegiatan yang mampu membanggakan Kalimantan Barat.
Pada tahun 1995 diadakan sebuah acara di gedung Widya Mandala Gereja Kota Baru, sekitar 150-an mahasiswa Dayak berkumpul dan bertemu dalam rangkaian kesenian yang telah dipersiapkan. Acara yang di motori KPMKKB (Keluarga Pelajar Mahasiswa Katolik Kalimantan Barat) dan KSDKB (Keluarga Seniman Dayak Kalimantan Barat) berlangsung dan menjadi penanda semangat kebersamaan. Acara inilah yang menjadi awal, dan akhirnya pada 2002 FKPMKS Sintang memulai PSBDK I, dimotori oleh (diantaranya) Wiro Pranata, Erik Krisley, Mery, Ivoo, Cornelia Meinarti, Reny, Benn Seo, Welly Seo, dan didukung Yoseph Oedillo Oendoen, dan Mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta asal Kalimantan Barat. Acara pertama ini penuh dinamika dan mengalami cobaan yang tidak sedikit.
Kemudian secara berturut-turut bergiliran menjadi tuan rumah: HPMDKH Kapuas Hulu (2003), FKPMKS Sintang (2004), IKBKSY Sanggau (2005), IPMKS Sekadau (2007), Fokus Mapawi Melawi (2008), IPMDKB Kutai Barat (2009), Formakal Landak (2010). Tahun 2006 acara dibatalkan karena Bedayong (Ketapang) mengalami kesulitan (baca: mungkin dipersulit dalam bantuan pendanaan) dan kemudian Gempa 5,9 SR yang mengguncang Yogyakarta. Sedangkan pada tahun 2009, acara di helat oleh mahasiswa Kalimantan Timur (Kutai Barat), untuk memberi kesempatan pada forum non-Kalimantan Barat menjadi penyelenggara.
Tanpa bermaksud membanggakan secara berlebihan, acara ini telah berevolusi menjadi sebuah laboratorium seni dan organisasi bagi mahasiswa Kalimantan Barat di Yogyakarta. Setiap diadakan, pengamat budaya, praktisi seni dan perhatian masyarakat Yogyakarta tumpah disini. Selama tiga hari rangkaian acara, seminar budaya, diskusi, permainan rakyat, pameran kerajinan, festifal tari dan malam tari Nusantara ditampilkan dengan apik dan tertata.  Pada penyelenggaran terakhir (2010), tercatat jumlah penonton pembeli tiket sekitar 700-800 orang pada gedung pertunjukkan, ini belum dihitung dengan banyaknya jumlah penonton yang tidak mendapat tiket (over capacity), dan tumpah ruah di arena pameran. Diperkirakan setiap harinya sekitar 2000 mahasiswa ditambah masyarakat umum hadir dan meramaikan kegiatan ini. Acara ini juga menjadi penantian bagi asrama-asrama mahasiswa di Yogyakarta, karena dalam berkali-kali penyelenggaraan panitia selalu mengundang komunitas luar Kalimantan untuk hadir, sejauh ini yang pernah terlibat adalah asrama Aceh, asrama Lampung, asrama Bali, asrama Jawa Barat, asrama Banten, asrama Papua, asrama Flores, asrama Sumba, dan komunitas lain seperti Paguyuban Tri Tunggal, Himpunan Mahasiswa Jurusan Tari ISI Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, Universitas Atma Jaya, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Negeri Yogyakarta.
Menjelang penyelenggaran ke-IX oleh Bedayong Ketapang 2011 kelak, acara ini sebaiknya dikaji ulang untuk diperbaiki dan terus bergerak untuk lebih baik dan tajam. Ia sebaiknya tidak hanya menjadi ajang hura-hura dan reuni semata, akan tetapi memperkaya dan mengalami pengkayaan makna secara terus menerus. Semangat kedaerahan, harus dapat dikomodifikasi menjadi sebuah nasionalisme Indonesia baru, dimana pluralisme dan multikulturalisme tidak hanya berhenti pada paparan wacana semata, ia terus dibicarakan dan menjadi gairah baru dalam masyarakat.
Harus diakui generasi muda Dayak saat ini, adalah generasi yang tercerabut dari akar tradisinya, kegamangan generasi sebelumnya dalam mendelegasikan pengetahuan tradisi diperburuk oleh perlakuan pemerintah Indonesia yang tidak berpihak dan cenderung membuka jalan kehancuran itu. Jadi, ketika sebegitu jauh orang-orang muda ini menyelenggarakan “gawai’-nya, fenomena ini tak pantas ditertawakan. Namun merupakan bahan perbandingan pula bagi acara aslinya di seluruh komunitas adat di Kalimantan Barat, yang penuh dengan hiburan tak sehat dan berbau politis. Sebagai Duta Budaya dan Pariwisata, PSBDK dan mahasiswa layak mendapat perhatian yang baik dari pemerintah, sebagai anak-anak nakal yang kreatif dan enerjik, bukan mitra proyek.
Dalam kegiatan terutama tahun 2010 lalu, Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan, dan Pariwisata (DISPORABUDPAR) atau apapun namanya seperti kebingungan menanggapi animo mahasiswa. Bahkan terjadi kesan meremehkan dan usaha pengaburan kepentingan beberapa oknum pejabat daerah. Mahasiswa telah berusaha mencari dana independen (sponsor), namun tetap sangat memerlukan perhatian Pemerintah Daerah. Dana yang telah diberikan sebagai bantuan, sebaiknya tidak dianggap sebagai sebuah tali untuk mengendalikan kegiatan berdasarkan kepentingan pribadi bahkan politis. Mahasiswa sebaiknya diberi ruang yang cukup untuk berkreasi dengan jujur, dan militan ala anak muda. Pada masa-masa inilah kesempatan untuk belajar “idealisme” menjadi penting, selain mereka belajar menghargai perbedaan, keragaman sekaligus belajar pula mengelola “sesuatu” dengan jujur, baik, terutama dalam pertanggungjawaban keuangan dan kerja-kerjanya. Bukankah Pariwisata Kalimantan Barat dan Pemerintah Daerah memerlukan generasi yang mau lebih “bersih” dan memiliki etos kerja baik?
Membicarakan budaya dan seni sebagai unsurnya tak hanya cukup berpura-pura. Seni tradisi dan budaya bahkan untuk aset pariwisata, hendaknya tumbuh dari sebuah kesadaran rakyat dan masyarakat pendukungnya secara total. Bukan mercusuar yang sewaktu-waktu dapat saja redup ketika kebijakan-kebijakan politik tak lagi berpihak. Pariwisata pada hakekatnya dapat merupakan sebuah pemberdayaan pada masyarakat lokal. Sehingga terbiasa bersentuhan dengan wisatawan, memperlakukan mereka dengan baik, dan memahami manajeman dalam mengelola sumber daya secara mandiri. Pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menjadi mitra yang mendukung dan memberikan arahan, sesuai dengan visi Pariwisata menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata: terwujudnya jati diri bangsa, persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka multikultural, kesejahteraan rakyat dan persahabatan antar bangsa .
            Belum jauh PSBDK berjalan dan terjadi, hendaknya mahasiswa segera melakukan pembenahan agar acara ini dapat menjadi semakin baik dan menjadi ajang belajar yang sungguh-sungguh memperkaya, mengalami dan memberikan pengayaan makna. (Iwan Djola, Tulisan dimuat dalam Majalah Betang)

Selasa, 18 Oktober 2011


Kunjungan Kedua Pak Bupati di Yogyakarta

Drs. Henrikus, M.Si: PSBDK IX Harumkan Dayak dan Angkat Eksistensi Ketapang



Pada tanggal 18-23 Oktober 2011 lalu, untuk kedua kalinya Bupati Henrikus mengunjungi mahasiswanya di Yogyakarta. Beliau beserta rombongan datang ke Kota Pelajar untuk menyaksikan secara langsung kegiatan Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan (PSBDK) IX. Disela-sela kunjungannya, Pelindung Forum Bedayong sekaligus Pelindung Panitia PSBDK IX 2011 ini menyempatkan diri untuk bertemu dengan mahasiswa Ketapang di Hotel Pose In (23/11/2011). Pertemuan ini hadiri oleh Ketua Bedayong Fornestor Mindaw bersama beberapa pengurus lainnya, Ketua Panitia PSBDK IX Darwis Alfonsus, dan Ketua Sekretariat Bersama Pelajar Mahasiswa Kalimantan Barat Liberto Een.

Bupati didampingi oleh beberapa pejabat eksekutif Ketapang diantaranya Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Heronimus Tanam, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Syamsu Akhyar, Kepala  Dinas Perkebunan Lukas Lawun, Kepala Kantor Kesbangpol Donatus Gaza, Sekretaris Dinas Pendidikan Henrikus Jahilin dan Kabag Kepegawaian Dinas Pendidikan Philipus Kaleh menyampaikan beberapa hal terkait perhatian Pemerintah Kabupaten Ketapang terhadap mahasiswa di Yogyakarta. Diantaranya mengenai PSBDK IX yang diselenggarakan Forum Bedayong. Beliau merasa bangga dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Forum Bedayong yang telah sukses melaksanakan acara PSBDK IX. Menurut beliau, PSBDK IX tidak hanya bertujuan mengharumkan nama suku Dayak di Kalimantan, tetapi  mampu mengangkat eksistensi Kabupaten Ketapang.

“Walaupun saya tidak sempat hadir karena kegiatan dinas dan cuaca buruk, namun saya terus memantau keberlangsungan kegiatan ini via telepon”, ungkap Pak Bupati yang sebelum dijadwalkan membuka dan menutup acara PSBDK IX. Jadwal tersebut bertepatan dengan acara pemberangkatan calon Jemaah Haji dari Kabupaten Ketapang dan cuaca yang tidak bersahabat menunda  jadwal penerbangan dari Jakarta ke Yogyakarta.

Darwis Alfonsus Ketua Panitia PSBDK IX menjelaskan secara garis besar hasil kerja panitia sekaligus menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bupati Ketapang yang telah memberikan dukungan penuh terhadap acara PSBDK IX tahun 2011. Hal senada disampaikan Ketua Bedayong, Fornestor Mindaw. “15 tahun Bedayong berdiri sebagai forum yang mengayomi mahasiswa Ketapang di Yogyakarta, belum pernah menerima dukungan dan kepercayaan sebesar ini dari Pemerintah Kabupaten Ketapang”, ungkap Mindaw.

Selain berkomentar masalah PSBDK IX, Bupati Ketapang memaparkan berbarapa hal terkait perkembangan Kabupaten Ketapang saat ini. Beliau beserta jajaran pemerintah kabupaten berkomitmen untuk memajukan Ketapang melalui peningkatan pembangunan di segala bidang. Beliau juga sempat menyinggung beberapa LSM yang tidak berpihak kepada masyarakat. Tugas utama LSM adalah mengayomi bukan membohongi masyarakat. Dalam kesempatan itu juga, Pak Bupati berencana menyelaraskan acara PSBDK IX karya mahasiswa di Yogkarta dengan program Pemerintah Kabupaten Ketapang. Beliau akan membangun “panggung pertunjukan rakyat” di halaman  Pendopo Bupati yang kedepannya dapat dijadikan tempat pertunjukan kesenian dan tradisi. Di sekitar panggung dibangun juga tempat untuk berbagai acara seperti pameran kerajinan, permainan rakyat dan sebagainya. “Kita berharap langkah awal ini bisa menarik minat para wistawan baik domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke Ketapang sehingga ada sebuah keberlanjutan dari acara yang sudah kita laksanakan di Yogyakarta”, ungkap mantan wakil bupati Ketapang periode 2005-2010.

Beberapa pengurus Bedayong yang hadir dalam pertemuan tersebut juga mendapat kesempatan untuk bertanya mengenai berbagai hal berkaitan dengan organisasi Bedayong. Seperti yang ditanyakan oleh Dewan Perwakilan Forum Wihelmus Wandre mengenai pembangunan asrama mahasiswa Kabupaten Ketapang di Yogyakarta. Dari penjelasan yang disampaikan Bupati Ketapang, pemkab Ketapang akan mendukung sepenuhnya rencana tersebut dan tentunya melalui prosedur-prosedur yang ada.

“Sebagai kota pelajar, sudah selayaknya mahasiswa Ketapang memiliki asrama. Saya sangat mendukung. Melalui Forum Bedayong ini saya berharap rekan-rekan mahasiswa bergerak secara proaktif supaya pembangunan asrama mahasiswa Ketapang segera terwujud”, tanggap Pak Bupati.

Di akhir pertemuan, bak orang tua dan anak, Bupati Ketapang memberikan nasehat kepada para mahasiswa yang hadir untuk segera mungkin menyelesaikan kuliah. “Kabupaten Ketapang membutuhkan orang-orang seperti kalian ini”, tegasnya.


Putri Kedua, Maria Atira