Penantian 48 tahun
Masyarakat Dayak Ketapang Terwujudkan
Kerinduan
masyarakat Dayak Ketapang kepada pemimpin Dayak selama 48 tahun telah
terwujudkan. Sejarah baru itu tercipta tepat pada tanggal 30 Agustus 2010 lalu,
seorang putra Dayak asal Dayak Pesaguan Kabupaten Ketapang, Drs. Henrikus,
M.Si. dilantik menjadi Bupati Ketapang periode 2010-2015. Henrikus yang periode
sebelumnya menjabat sebagai Wakil Bupati Ketapang merupakan bupati Dayak kedua
Kabupaten setelah alm. P.Y Denggol pada tahun 1972.
Semangat
perjuangan masyarakat Dayak Ketapang untuk mendudukan seorang putra daerah di
pucuk pimpinan Pemerintahan Daerah pada Pemilu Kepala Daerah (pemilukada) Kab.
Ketapang 2010 memiliki kesamaan dengan perjuangan masyarakat Dayak Kalimantan
Barat pada saat mendudukan gubernur Dayak, Drs. Cornelis, MH. pada Pemilihan
Gubernur tiga tahun yang silam. Hal tersebut
dapat kita lihat dari persamaan masa penantian akan pemimpin Dayak serta
memperjuangkan tokoh politik Dayak yang kedua.
Semangat persatuan masyarakat Dayak
Ketapang perlu kita apresiasikan. Hal tersebut dapat kita lihat dukungan dari
berbagai elemen seperti gubernur Dayak, pihak gereja, organisasi-organisasi
Dayak, kaum intelektual muda Dayak/mahasiswa dan pelajar, serta masyarakat Dayak secara menyeluruh. Drs.
Henrikus, M.Si. yang berpasangan dengan Boyman Harun, SH. pada pemilukada
beberapa waktu lalu terbukti banyak mendulang suara dari daerah pedalaman yang
mayoritas suku Dayak. Pasangan yang didukung oleh empat partai politik yaitu
PDIP, Demokrat, PAN dan PPD berhasil mengalah pasangan Yasyir Ansyari dan
Martin Rantan yang mayoritas basis suaranya di daerah pesisir atau Melayu
dengan masing-masing perolehan suara 116.079 dan 94.052 suara.
Kemenangan Dayak di Kabupaten Ketapang ini
merupakan tonggak awal perubahan masyarakat Dayak itu sendiri. Apakah dengan
terpilihnya seorang bupati Dayak dapat mengubah kondisi kehidupan masyarakat
Dayak di Ketapang? Saat ini, kondisi masyarakat pedalaman/Dayak sangatlah
memprihatinkan. Bertahun-tahun kekayaan alam masyarakat pedalaman dikuras
habis-habisan demi kepentingan yang tidak jelas. Perkebunan kelapa sawit,
penebangan hutan dan pertambangan seolah-olah menjadi penguasa kehidupan
masyarakat Dayak. Kearifan lokal suku Dayak dengan perlahan-lahan sengaja
dihilangkan. Di sisi lainnya, berbagai jenis penindasan dilakukan oleh pihak-pihak
tertentu yang mengaku sebagai ”sahabat Dayak” melalui intervensi penguasa di
Pemerintah Daerah seperti ketimpangan pembangunan antara pedalaman dengan
pesisir. Pembangunan infrasruktur di masyarakat pedalaman masih jauh
ketinggalan dibandingkan daerah pesisir, jalan-jalan dibiarkan hancur, sarana
dan prasarana pendidikan dan kesehatan masih belum memadai serta tingkat
perekonomian yang selalu rendah.
Tugas berat Henrikus lima tahun kedepan
untuk merubah pola pemerintahan yang selalu bertindak tidak adil. Hal tersebut tentu saja harus dilakukan
dengan profesional dan bijaksana. Semoga dengan terpilihnya bupati dari
kalangan suku Dayak ini dapat merasa penderitaan masyarakat Dayak, sehingga
bisa diimplementasikan melalui kebijakan pembangunan yang adil dan merata.
Selamat berjuang Pak Bupati! (Darwis Alfonsus, Ketua GMPPK-Jogja asal
Ketapang)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar