Rabu, 28 Maret 2012

Dayak Laor dan Sejarah Desa Sepotong

Secara geografis, kecamatan Sungai Laur di Kabupaten Ketapang terletak di garis lintang 00 32’ 00” LS - 10 10’ 00” Lintang Selatan,  1100 14’ 24” BT - 1100 40’ 24” Bujur Timur. Sedangkan batas-batas wilayah administratif pada bagian utara berbatasan dengan Kecamatan Simpang Hulu dan Kebupaten Sekadau, bagian selatan dan timur berbatasan dengan Kecamatan Sandai dan bagian barat berbatasan langsung dengan Kecamatan Simpang Dua dan Kecamatan Simpang Hilir. Sedangkan luas wilayah Kecamatan Sungai Laur adalah 1.650,70 Km2.  
Penduduk Kecamatan Sungai Laur terdiri dari berbagai macam suku bangsa yaitu suku Dayak, Melayu, Tionghoa dan suku pendatang lainnya. Sebagian besar penduduk Kecamatan Sungai Laur  adalah suku Dayak. Suku Dayak yang berdomisi di Kecamatan Sungai Laur sering disebut Dayak Laor. Masyarakat Dayak Laor sendiri tinggal di desa-desa tepian Sungai Laur yang melintas di Kecamatan Sungai Laur meliputi desa Sungai Daka, Sinar Kuri (Kalam), Bengaras, Lanjut Mekar Sari (Semapau Hulu), Kepari, Sepotong, Tanjung Beringin, Selangkut, Tanjung Maju, Randau Limat. Pada tahun 2010 jumlah penduduk suku Dayak Laor mencapai 8.015 penduduk atau 48% dari jumlah penduduk Kecamatan Sungai Laur.
Budaya dan adat istiadat di setiap desa Dayak Laor mempunyai ciri khas yang hampir sama. Misalnya ritual adat pernikahan dan kematian di Desa Sungai Daka mempunyai kesamaan dengan ritual adat pernikahan dan kematian di Desa Sepotong, Sinar Kuri, Bengaras, Lanjut Semapau Hulu, Kepari, Tanjung Beringin, dan Randau Limat. Dalam ritual tersebut terdapat sama-sama terdapat musik tradisi begamal ataupun bacipak. Sedangkan dua desa, yaitu Tanjung Maju dan Selangkut tradisi dan adat istiadatnya cenderung berbeda dengan budaya Dayak Laor pada umumnya. Ciri khas budaya di dua desa ini memiliki kesamaan dengan budaya Dayak Simpang di Kecamatan Simpang Hulu. Dari segi bahasa, Dayak Laor mempunyai tiga rumpun bahasa. Penulis membagikan tiga rumpun bahasa berdasarkan cara pengucapannya, yaitu bahasa konei/ com dok pei, konai/ com ado dan kopih/ madeh . Bahasa konei/ com dok pei digunakan masyarakat Desa Sungai Daka dan Kalam. Bahasa  konai/ com ado oleh masyakat desa Sepotong, Semapau Hulu, Bengaras, Tanjung Beringin, Randau Limat dan Kepari. Sedangkan bahasa kopih/madeh digunakan oleh masyarakat desa Selangkut dan Tanjung Maju. Meskipun sebagian besar budaya dan adat istiadat setiap kampung Dayak Laor memiliki kesamaan, namu perbedaaan itu tetap ada baik dalam hal tata cara melakukan ritual adat ataupun logat bahasanya.

Sejarah Desa Sepotong
Desa Sepotong merupakan salah satu desa di Kecamatan Sungai Laur yang mayoritas penduduknya memeluk agama Katolik dan beretnis Dayak (Dayak laor). Desa Sepotong yang sering kali disebut "Kampong Tanah Monang" terletak di bagian hulu Sungai Laur berbatasan dengan Desa Tanjung Beringin, Sukaramai, Kepari dan Semapau Hulu. Masyarakat Sepotong (Urang Sapotonk) merupakan keturunan Dayak Kerabat (Sekadau) dan Dayak Ngaju (Barito). Hal ini dapat diidentifikasikan melalui bahasa dan musik tradisi. Dari segi bahasa, bahasa Sepotong memiliki banyak kesamaan pengucapan dengan bahasa Dayak Kerabat, sedangkan kesamaan yang lain yaitu musik tradisi misalnya Begamal dan Gondang Allah. Menurut Bernard Sallato dalam buku Kanjan Serayong masyarakat Dayak Laor dan masyarakat asli lainnya di Kabupaten Ketapang merupakan bagian dari Dayak Ngaju. Dari segi ritus kematian, masyarakat Sepotong memiliki banyak kemiripan dengan Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah. Misalnya istilah Nyandonk, Tambak, Bukonk. Sementara menurut kisah Pateh Thentek (73) petinggi adat Desa Sepotong Orang Sapotongk berasal dari keturunan Rajo Risi Siak Beulun di Pupuk Tagua Tanah Tarah Ncuke Tanyunk Bunga (Menyumbung, Hulu Sungai). Konon, keturunan Rajo Risi Siak Beulun sebagiannya besar hijrah ke Sukadana yang kemudian mudik menyusuri Sungai Pawan ke daerah Sungai Laur tepatnya di Kampung Sungai Dako (Laman Laor Bungo). Pada waktu itu mereka mendiri mendirikan rumah Betang yang terdiri dari empat bilik (Lawang). Kelompok masyarakat di Kampung Sungai Dako ini kemudian menyebar ke beberapa kampung lainya di hulu Sungai Laur termasuk Desa Sepotong. Dalam buku Mozaik Dayak, subsuku Dayak Laor sebagian besar berasal dari kelompok suku Dayak dari Kabupaten Sekadau yang menghindari revolusi pengislaman suku Dayak. Hingga tahun 2010 jumlah penduduk Desa Sepotong mencapai 1.288 jiwa.
Cikal bakal Desa Sepotong pada masa lalu berasal dari berbagai tempat atau pedukuhan yang berbeda-beda. Masyarakatnya mengalami beberapa kali pindah tempat tinggal (nomaden). Menurut penuturan nara sumber Pateh Tentek dan Tamonggong Tanjin (alm.) masyarakat Sepotong berawal dari pedukuhan Batu Tabok yang teletak di bagian hilir Desa Sepotong. Dulunya, mereka tinggal cukup lama di rumah Botang Batu Tabok kemudian pindah ke daerah Sungai Jiingk. Ada dua hal yang menyebabkan mereka pindah ke Pedukuhan Sungai Jiingk yaitu  perkembangan jaman yang menyebabkan kebutuhan masyarakat meningkat, apalagi masyarakat pada waktu itu masih sangat tergantung dengan alam. Satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan yang semakin berkurang adalah  mencari lahan atau daerah baru yang alamnya masih mencukupi untuk kebutuhan hidup, misalnya lahan untuk beladang. Selain itu, masyarakat merasa ketakutan karena serangan pengayau atau sering disebut panobok serta serangan wabah penyakit (sampar).
Setelah lama menetap di pedukuhan Sungai Jiingk, masyarakat kembali pindah tempat tinggal. Mereka pindah ke daerah Ulu Tangk Kambulok (hulu sungai Tangk Kambulok) dan kembali menyebar di beberapa tempat, yaitu daerah Pancor, Tanjong Malang (Tanjung Beringin) hingga Ulu Limat. Pada saat di pedukuhan Ulu Tangk Kambulok, masyarakat bersama-sama mendirikan tempat tinggal rumah botang yang terdiri dari tiga bagian yaitu Tangk Lombangk, Tangk Tongah dan Tangk Potai. Tiga bagian rumah Botang yang berdiri megah itu ditempati oleh tiga belas (13) kepala keluarga yang kemudian disebut lawang (Lawang Singo, Lawang Jerot, Lawang Jai, Lawang Santan, Lawang Domong, Lawang Kanduroh, Lawang Rajo, Lawang Kanjau, Lawang Tingang, Lawang Kek Lintang, Lawang Borok (Pendek Ikok), dan Lawang Kelambu Asap). Pemimpin kampung saat itu adalah Tamonggong Cuya. Tamonggong Cuya dikenal sebagai sosok pemimpin yang pandai dan hebat. Sebagai bentuk penhormatan masyarakat kepada Beliau, setelah meninggal dunia tulang belulangnya dijadikan Sandongk yang tiangnya masih bisa kita jumpai di Tambawang Rumah Botangk saat ini.
Berawal dari rumah botang di Ulu Tangk Kambulok inilah kata Sepotong/Sapotongk didapatkan. Alkisah, pada waktu itu ada dua saudara menemukan sepotong kayu Tebelian (Ulin) tertancap di tengah jalan dengan posisi pokoknya di bagian atas pada saat mereka ingin melihat hasil tangkapan bubu di sebuah sungai kecil sungai yang bermuara di Tangk Kambulok. Mereka berdua merasakan hal yang aneh ketika melihat sepotong kayu Tebelian tiba-tiba muncul di tengah jalan. Selain posisinya yang terbalik, di sekitar itu tidak ada pohon Belian yang tumbuh. Setalah menemui kejadian aneh itu, salah satu diantara mereka bermimpi bahwa kayu tersebut jatuh dari Kayangan (Sarugo Landuk) kirim Sang Duato (Tuhan). Dalam mimpi itu diceritakan bahwa Duato mengirimkan utusan-Nya terdiri dari sepasang suami istri untuk bertugas menjaga kampung dari berbagai mara bahaya baik penyakit maupun serangan musuh. Duato meminta masyarakat di rumah botang untuk menjaga dan menghormati kayu Tebelian itu. Pada akhirinya masyarakat sepakat untuk menjadikan sepotong kayu itu sebagai keramat. Keramat itu dinamakan keramat Sapotongk dan ditempatkan di hilir kampung tepatnya di muara sungai kecil dimana kayu itu pertama kali ditemukan.Sungai tempat berdirinya keramat itupun diberi nama sungai Sapotongk. Setelah itu pedukuhan Ulu Tangk Kambulok diberi nama Kampongk Sapotongk atau Rumah Botang Sapotongk. Keramat Sapotongk saat ini berada di Desa Sungai Daka dan berganti nama keramat Rajo Pindah.
Bagi mereka yang menetap di Rumah Botang Sapotongk diyakini sebagai sebagai cikal bakal Desa Sepotong saat ini. Nama Desa Sepotong saat inipun diambil dari nama pedukuhan Sapotongk di Ulu Tangk Kambulok. Sedangkan mereka yang pindah ke daerah Pancor menjadi Orang Kepari (Desa Kepari), Tanjong Malang menjadi Orang Tanjong (Desa Tanjung Beringin) dan pedukuhan Ulu Limat menjadi Orang Limat (Desa Randau Limat). Setelah cukup lama mendiami rumah botang di hulu sungai Tank Kambulok dengan alasan yang sama yaitu memenuhi kebutuhan hidup sebagian besar masyarakat hijrah lagi ke daerah tepian sungai Laur (Tang Aik). Penulis menduga perpindahan tersebut disebabkan oleh akses transportasi sungai di Sungai Laur lebih layak untuk  mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.  
Menurut penuturan Kakek Yosef mantan Lurah (Domong) Desa Sepotong, pada awal tahun 1960-an masyarakat kampung Sapotongk di Ulu Tangk Kambulok hijrah ke Desa Sepotong saat ini.Saat itu masyarakat Sepotong masih tinggal berkelompok di beberapa tempat seperti di daerah muara sungai Tang Kambulok, Ensarai, Batang dan lain-lain. Kemajuan jaman menyatukan mereka menjadi satu kampung halaman yaitu Desa Sepotong. Menurut tata administratif Pemerintah Kabupaten Ketapang, sebelum dimekarkan menjadi beberapa desa, desa Sepotong dibagi menjadi tiga (3) dusun, yaitu Dusun Sepotong, Dusun Semapau Hulu, dan Dusun Kepari. Pasca berpisahnya Dusun Semapau Hulu, dan Dusun Kepari (pemekaran menjadi desa), Desa Sepotong kemudian dibagi menjadi dua dusun, yaitu Dusun Tapang terunang dan Balai Keramat. Berikut ini susunan pemimpin Kampung Sepotong:
1. Ampun (Domong)
2. Jandui (Domong)
3. Aweng (Domong)
4. Simpat/Mas Ganda (Domong)
5. Bola/Mas Prabu (Domong)
6. Said (Lurah)
7. Tanjin (Lurah)
8. Yosef (Lurah)
9. F. Gambus (Kades)
10. Petrus Lodji (Kades)
Penulis mengajak generasi muda Sepotong untuk terus menyempurnakan tulis ini (sejarah Desa Sepotong) dengan berbagai sudut pandang. Sejarah adalah identititas dan jati diri. Mari kita terus menggali kejayaaan masa lalu nenek moyang kita dan jadi ilmuwan di tanah kita sendiri. Salam Tanah Monang. (Darwis Alfonsus)
Sumber wawancara: Bapak Yosef (Juni 2007), Bapak Tanjin (Agustus 2008), Bapak Thentek (Agustus 2008, November 2012).

3 komentar:

  1. thank wis,,,nantek tggl q copy paste za untok tugas q. heheeee. mokaseh bah. Teruslah berkarya,,,!!!

    BalasHapus
  2. Dayak laor termasuk ke Dayak......,???
    .
    Misal Dayak simpang tu dayak tamak rawank
    Dayak tayap dayak kayong

    BalasHapus
  3. Sip ....untung ado duan nulis a i...jadi musah aku ngisek PR a

    BalasHapus

Putri Kedua, Maria Atira