Pesta Seni dan Budaya Dayak Se-Kalimantan
Oleh Mahasiswa di
Yogyakarta:
Memperkaya dan Mengalami Pengayaan Makna
Pesta Seni Budaya Dayak se-Kalimantan (PSBDK) yang diadakan mahasiswa di Yogyakarta
melalui organisasi-organisasi kemahasiswaan, kini menjelma menjadi ikon dan
kebanggaan bersama. Sejauh ini, dalam kurun waktu 10 tahun pengamatan kami,
tidak ada acara kedaerahan yang mampu terjadi secara konsisten dan berskala
nasional serupa ini. Jakarta lewat Dayak Youth Community sudah pula menggelar
Dayak Night, namun tetap terhitung baru.
Sejak tahun 2001-2010 PSBDK terus menjadi bola salju perjalanan
keresahan mahasiswa Dayak di Yogyakarta akan eksistensi kesenian dan tradisi,
yang merupakan budaya pendukung ke-Indonesiaan dan nasionalisme bangsa. Acara ini, satu dari sedikit perhelatan
besar mahasiswa daerah yang berdomisili di Yogyakarta. Ia lahir bukan oleh
(dugaan) fanatisme kedaerahan semata, namun merupakan sebuah cara dalam
mengkritisi eksistensi budaya Dayak dan bersikap kritis terhadap pemerintah daerah di Kalimantan dan negara ini tentang
cara memperlakukan dan menghargai budaya lokal yang menjadi pilar bangsa.
Kegiatan serupa ini tidak terlepas dari perjalanan
sejarah mahasiswa Kalimantan Barat di Yogyakarta, sejak berdirinya Asrama
Rahadi Oesman (1951)
dan Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Barat (KPMKB) pada tahun 1955. Setelah jauh berjalan asrama dan organisasi ini kini
semakin esklusif, dimana hanya kelompok tertentu saja yang terakomodir dan
dapat benar-benar “nyaman” di dalamnya. Kelompok yang tidak terakomodir (baca: Dayak/non
Melayu) akhirnya membentuk Keluarga Pelajar Mahasiswa Katolik Kalimantan Barat (KPMKKB)
pada 1979/1981, sebagai wadah
baru bagi mahasiswa, yang umumnya berasal pedalaman dan jumlahnya memang
relatif kecil. Masalah ini sesungguhnya semakin mengkristal dan
menjadi ancaman, namun tidak pernah dapat dipecahkan oleh mahasiswa dan
sayangnya tak mendapat perhatian pula oleh pemerintah daerah sebagai potensi
yang buruk bagi masa depan generasi muda Kalimantan Barat.
Dualisme ini terus bergerak hingga tahun 1980, ketika
KPMKKB semakin kokoh dan bertambah personilnya di Yogyakarta. Pada medio
1980-1990an, rivalitas ini semakin tajam dan kedua organisasi ini terus
berkegiatan, mengorganisir diri tanpa melihat latar belakang yang sebenarnya
memilki kesamaan. Mahasiswa daerah (luar Kotamadya Pontianak) semakin banyak
berdatangan ke Yogyakarta, atas kesadaran itu, KPMKKB yang tidak pernah
mendapat insentif apapun dari pemerintah Kalimantan Barat dengan kesadaran
sendiri melebur dan membentuk IPMKB (Ikatan Pelajar Mahasiswa Kalimantan Barat)
dengan Sekretariat Bersama JC.Oevaang Oeray,
yang didalamnya terdapat forum-forum kedaerahan sebagai
anggota. Salah satu anggota secretariat bersama yang cukup tua usianya yaitu KSDKB (Keluarga Seniman Dayak Kalimantan Barat)
yang berdiri tahun 1995, kemudian BEDAYONG (Ketapang) 1996, baru
kemudian secara perlahan berdiri pula IKBKSY Sanggau, FORMAKAL Landak, FPMKKS
Sintang, HPMDKH Kapuas Hulu, Fokus Mapawi Melawi, IPMKS Sekadau, FPMKB
Bengkayang, Formasi Singkawang. Gejala ini dikondisikan untuk mempermudah
pengorganisasian ratusan bahkan ribuan mahasiswa asal Kalimantan Barat yang menuntut ilmu di
Yogyakarta saat ini. Sedangkan KPMKB (organisasi yang dianggap legal dan
didanai pemerintah) tetap ada, namun vakum dan mengalami stagnasi akut. Sampai
kini pun KPMKB tak mampu berbuat banyak, cenderung protektif dan tak memiliki
agenda kegiatan yang mampu membanggakan Kalimantan Barat.
Pada tahun 1995 diadakan sebuah acara di gedung Widya Mandala Gereja Kota Baru, sekitar 150-an mahasiswa Dayak
berkumpul dan bertemu dalam rangkaian kesenian yang telah dipersiapkan. Acara
yang di motori KPMKKB (Keluarga Pelajar
Mahasiswa Katolik Kalimantan Barat) dan KSDKB (Keluarga Seniman Dayak Kalimantan Barat) berlangsung dan menjadi penanda semangat
kebersamaan. Acara inilah yang menjadi awal, dan akhirnya pada 2002 FKPMKS
Sintang memulai PSBDK I, dimotori oleh (diantaranya) Wiro Pranata, Erik
Krisley, Mery, Ivoo, Cornelia
Meinarti, Reny,
Benn Seo, Welly Seo, dan didukung Yoseph Oedillo Oendoen, dan Mahasiswa
Institut Seni Indonesia Yogyakarta asal Kalimantan Barat. Acara pertama ini penuh dinamika
dan mengalami cobaan yang tidak sedikit.
Kemudian secara berturut-turut bergiliran menjadi tuan
rumah: HPMDKH Kapuas Hulu (2003), FKPMKS Sintang (2004), IKBKSY Sanggau (2005),
IPMKS Sekadau (2007), Fokus Mapawi Melawi (2008), IPMDKB Kutai Barat (2009),
Formakal Landak (2010). Tahun 2006 acara dibatalkan karena Bedayong (Ketapang)
mengalami kesulitan (baca: mungkin dipersulit dalam bantuan pendanaan) dan
kemudian Gempa 5,9 SR yang mengguncang Yogyakarta. Sedangkan pada tahun 2009,
acara di helat oleh mahasiswa Kalimantan Timur (Kutai Barat),
untuk memberi kesempatan pada forum non-Kalimantan Barat menjadi penyelenggara.
Tanpa bermaksud membanggakan secara berlebihan, acara ini
telah berevolusi menjadi sebuah laboratorium seni dan organisasi bagi mahasiswa
Kalimantan Barat di Yogyakarta. Setiap diadakan, pengamat budaya, praktisi seni
dan perhatian masyarakat Yogyakarta tumpah disini. Selama tiga hari rangkaian
acara, seminar budaya, diskusi, permainan rakyat, pameran kerajinan, festifal
tari dan malam tari Nusantara ditampilkan dengan apik dan tertata. Pada penyelenggaran terakhir (2010), tercatat
jumlah penonton pembeli tiket sekitar 700-800 orang pada gedung pertunjukkan,
ini belum dihitung dengan banyaknya jumlah penonton yang tidak mendapat tiket
(over capacity), dan tumpah ruah di arena pameran. Diperkirakan setiap harinya
sekitar 2000 mahasiswa ditambah masyarakat umum hadir dan meramaikan kegiatan
ini.
Acara ini juga menjadi penantian bagi asrama-asrama mahasiswa di Yogyakarta,
karena dalam berkali-kali penyelenggaraan panitia selalu mengundang komunitas
luar Kalimantan untuk hadir, sejauh ini yang pernah terlibat adalah asrama
Aceh, asrama Lampung, asrama Bali, asrama Jawa Barat, asrama Banten, asrama
Papua, asrama Flores, asrama Sumba, dan komunitas lain seperti Paguyuban Tri
Tunggal, Himpunan Mahasiswa Jurusan Tari ISI Yogyakarta, Universitas Sanata
Dharma, Universitas Atma Jaya, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Negeri
Yogyakarta.
Menjelang penyelenggaran ke-IX oleh Bedayong Ketapang 2011 kelak, acara ini sebaiknya
dikaji ulang untuk diperbaiki dan terus bergerak untuk lebih baik dan tajam.
Ia sebaiknya tidak hanya menjadi ajang hura-hura dan reuni semata, akan tetapi memperkaya
dan mengalami pengkayaan makna secara terus menerus. Semangat kedaerahan, harus
dapat dikomodifikasi menjadi sebuah nasionalisme Indonesia baru, dimana
pluralisme dan multikulturalisme tidak hanya berhenti pada paparan wacana
semata, ia terus dibicarakan dan menjadi gairah baru dalam masyarakat.
Harus diakui generasi muda Dayak saat ini, adalah
generasi yang tercerabut dari akar tradisinya, kegamangan generasi sebelumnya
dalam mendelegasikan pengetahuan tradisi diperburuk oleh perlakuan pemerintah
Indonesia yang tidak berpihak dan cenderung membuka jalan kehancuran itu. Jadi,
ketika sebegitu jauh orang-orang muda ini menyelenggarakan “gawai’-nya, fenomena ini tak pantas ditertawakan. Namun
merupakan bahan perbandingan pula bagi acara aslinya di seluruh komunitas adat
di Kalimantan Barat, yang penuh dengan hiburan tak sehat dan berbau politis.
Sebagai Duta Budaya
dan Pariwisata, PSBDK dan mahasiswa layak mendapat perhatian
yang baik dari pemerintah, sebagai anak-anak nakal yang kreatif dan enerjik,
bukan mitra proyek.
Dalam kegiatan terutama tahun 2010 lalu, Dinas
Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan, dan Pariwisata (DISPORABUDPAR) atau apapun namanya seperti kebingungan menanggapi animo
mahasiswa. Bahkan terjadi kesan meremehkan dan usaha pengaburan kepentingan beberapa oknum pejabat daerah. Mahasiswa
telah berusaha mencari dana independen (sponsor), namun tetap sangat memerlukan
perhatian Pemerintah Daerah. Dana yang telah diberikan sebagai bantuan,
sebaiknya tidak dianggap sebagai sebuah tali untuk mengendalikan kegiatan
berdasarkan kepentingan pribadi bahkan politis. Mahasiswa sebaiknya diberi
ruang yang cukup untuk berkreasi dengan jujur, dan militan ala anak muda. Pada masa-masa inilah kesempatan untuk belajar
“idealisme” menjadi penting, selain mereka belajar menghargai perbedaan,
keragaman sekaligus belajar pula mengelola “sesuatu” dengan jujur, baik, terutama dalam pertanggungjawaban
keuangan dan kerja-kerjanya. Bukankah Pariwisata Kalimantan Barat dan
Pemerintah Daerah memerlukan generasi yang mau lebih “bersih” dan memiliki etos
kerja baik?
Membicarakan budaya dan seni sebagai unsurnya tak hanya
cukup berpura-pura. Seni tradisi dan budaya bahkan untuk aset pariwisata,
hendaknya tumbuh dari sebuah kesadaran rakyat dan masyarakat pendukungnya
secara total. Bukan mercusuar yang sewaktu-waktu dapat saja redup ketika
kebijakan-kebijakan politik tak lagi berpihak.
Pariwisata pada hakekatnya dapat merupakan sebuah
pemberdayaan pada masyarakat lokal. Sehingga terbiasa bersentuhan dengan
wisatawan, memperlakukan mereka dengan baik, dan memahami manajeman dalam
mengelola sumber daya secara mandiri. Pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata menjadi mitra yang mendukung dan memberikan arahan, sesuai dengan
visi Pariwisata menurut Departemen Kebudayaan dan Pariwisata: terwujudnya jati diri bangsa, persatuan dan kesatuan
bangsa dalam kerangka multikultural, kesejahteraan rakyat dan persahabatan
antar bangsa .
Belum
jauh PSBDK berjalan dan terjadi, hendaknya mahasiswa segera melakukan
pembenahan agar acara ini dapat menjadi semakin baik dan menjadi ajang belajar
yang sungguh-sungguh memperkaya, mengalami dan memberikan pengayaan makna. (Iwan Djola, Tulisan dimuat dalam Majalah Betang)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar