Mungkin kata-kata itu menggambarkan kondisi terkini sungai
yang menghidupi puluhan desa/dusun di Kecamatan Sungai Laur. Belum hilang di
benak kita, Sungai Laur merupakan salah satu saksi bisu yang selalu setia
menggiringi derap langkah hidup setiap masyarakat yang duduk berdampingan
dengannya. Sungai Laur diibaratkan dengan seorang "Ibu" yang selalu
memberikan perhatiaan, sumber penghidupan dan nafkah bagi anak-anaknya. Sungai
Laur juga mengajarkan kita banyak hal, mengajar kita untuk mencintai,
menghormati dan menjaga alam. Lebih dari itu, kita juga mendapat pelajaran yang
sangat berharga, yaitu bagaimana kita harus hidup saling menghormati dan
berbagi terhadap sesama kita yang tinggal di tepiannya. Ajari ini dirangkumnya
menjadi satu kesatuan dalam adat istiadat dan tradisi melalui sentuhan tangan
nenek moyang kita yang mungkin kini tinggallah nama di seonggok kayu nisan yang
rapuh tak berdaya. Wahai generasi muda, Sungai Laur ingin bertanya. Saat kau
jauh dariku apakah engkau selaliu menyebut namaku?, kamu bisa mengayuh sampan
dan berenang mengarungi arus oleh karena siapa?, kamu belajar mengenal jenis-jenis
keanekaragaman hayati sungai belajar dari mana?, jika kamu ingin bepergian jauh
merantau menuntut ilmu, pernahkah aku menolongmu?. Pertanyaan ini mungkin
tidaklah sulit untuk kita jawab. Kita sudah selayak dan sepantasnya berterima
kasih kepada Sungai Laur yang kita cintai. Kini, satu per satu organ tubuh
Sungai Laur kita hancurkan hanyalah demi kepentingan sesaat. Perlakuan kita tidak
jauh berbeda dengan seorang penjahat yang menculik,menganiaya dan membunuh
korbannya. Sungai Laur saat ini sedang sakit parah yang mungkin sulit untuk
disembuhkan. Ratusan ponton PETI berkeliaran menyerang saraf dan jantung Sungai
Laur. Mereka seolah-olah lupa dengan jasa "ibu" yang telah ratusan
tahun memberikan nafkah bagi masyarakat Kecamatan Sungai Laur. Semakin jauh
dari telinga kita bahwa adanya tradisi Menuba ikan bersama di Sungai Laur. Ekosistem sungai pun
semakin berkurang. Saat musim kemarau tiba, masyarakat semua mengeluh dengan
sumber air bersih yang sulit di dapatkan. Seandainya nenek moyang kita yang
telah menjadi tanah dapat berbicara, mereka akan mengatakan, "kamu telah
membunuh orang tuamu sendiri. Kamu "tulah" dan patut mendapat
pembalasan dan kutukan yang setimpal". Masih adakah generasi muda yang peduli dengan
kondisi Sungai Laur yang saat ini sedang sakit. Tidak akan mungkin dokter dari
daerah lain yang mau mengobatinya, melainkan kita generasi muda Sungai Laur
yang harus siap dan mau menjadi dokter-dokter mengobati sakit sungai tercinta
Sungai Laur (Darwis Alfonsus).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar