Sabtu, 04 Agustus 2012

Sungai Laur Ku Sayang, Sungai Laur Ku Buang


Mungkin kata-kata itu menggambarkan kondisi terkini sungai yang menghidupi puluhan desa/dusun di Kecamatan Sungai Laur. Belum hilang di benak kita, Sungai Laur merupakan salah satu saksi bisu yang selalu setia menggiringi derap langkah hidup setiap masyarakat yang duduk berdampingan dengannya. Sungai Laur diibaratkan dengan seorang "Ibu" yang selalu memberikan perhatiaan, sumber penghidupan dan nafkah bagi anak-anaknya. Sungai Laur juga mengajarkan kita banyak hal, mengajar kita untuk mencintai, menghormati dan menjaga alam. Lebih dari itu, kita juga mendapat pelajaran yang sangat berharga, yaitu bagaimana kita harus hidup saling menghormati dan berbagi terhadap sesama kita yang tinggal di tepiannya. Ajari ini dirangkumnya menjadi satu kesatuan dalam adat istiadat dan tradisi melalui sentuhan tangan nenek moyang kita yang mungkin kini tinggallah nama di seonggok kayu nisan yang rapuh tak berdaya. Wahai generasi muda, Sungai Laur ingin bertanya. Saat kau jauh dariku apakah engkau selaliu menyebut namaku?, kamu bisa mengayuh sampan dan berenang mengarungi arus oleh karena siapa?, kamu belajar mengenal jenis-jenis keanekaragaman hayati sungai belajar dari mana?, jika kamu ingin bepergian jauh merantau menuntut ilmu, pernahkah aku menolongmu?. Pertanyaan ini mungkin tidaklah sulit untuk kita jawab. Kita sudah selayak dan sepantasnya berterima kasih kepada Sungai Laur yang kita cintai. Kini, satu per satu organ tubuh Sungai Laur kita hancurkan hanyalah demi kepentingan sesaat. Perlakuan kita tidak jauh berbeda dengan seorang penjahat yang menculik,menganiaya dan membunuh korbannya. Sungai Laur saat ini sedang sakit parah yang mungkin sulit untuk disembuhkan. Ratusan ponton PETI berkeliaran menyerang saraf dan jantung Sungai Laur. Mereka seolah-olah lupa dengan jasa "ibu" yang telah ratusan tahun memberikan nafkah bagi masyarakat Kecamatan Sungai Laur. Semakin jauh dari telinga kita bahwa adanya tradisi Menuba ikan  bersama di Sungai Laur. Ekosistem sungai pun semakin berkurang. Saat musim kemarau tiba, masyarakat semua mengeluh dengan sumber air bersih yang sulit di dapatkan. Seandainya nenek moyang kita yang telah menjadi tanah dapat berbicara, mereka akan mengatakan, "kamu telah membunuh orang tuamu sendiri. Kamu "tulah" dan patut mendapat pembalasan dan kutukan yang setimpal".  Masih adakah generasi muda yang peduli dengan kondisi Sungai Laur yang saat ini sedang sakit. Tidak akan mungkin dokter dari daerah lain yang mau mengobatinya, melainkan kita generasi muda Sungai Laur yang harus siap dan mau menjadi dokter-dokter mengobati sakit sungai tercinta Sungai Laur (Darwis Alfonsus).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Putri Kedua, Maria Atira