Rabu, 14 Oktober 2009


 
‘Babantant Kamponk’, 
Ritual Bersih Kampung Masyarakat Adat Sepotong


Pekan ketiga Juli 2008 menjadi momen yang sangat berarti bagi Masyarakat Adat Kampong Sepotong. Pasalnya, segenap masyarakat Kampung Sepotong berkumpul untuk melaksanakan  Upacara Adat Babantant Kamponk, yakni ritual adat tahunan yang tertinggi dan penuh nuansa sakral untuk membersihkan Kampong Sepotong dari berbagai macam mara bahaya akibat pelanggaran pantangan (pantang-ponti) yang dapat mengganggu kelangsungan hidup masyarakatnya. Babantant kamponk merupakan  salah satu wujud doa masyarakat kepada Duato (Tuhan) untuk mengampuni dosa, menjaga, dan memelihara mereka selama kurun waktu satu tahun ke depan.

Ritual babantant kamponk Sepotong setiap tahunnya dilaksanakan oleh salah satu lawangk kampongk. Lawangk kampongk berasal dari bahasa Sepotong yang terdiri dari dua kata yaitu ‘lawangk’ dan ‘kampongk’. Lawangk berarti pintu, sedangkan kampongk adalah kampung atau sekarang ini lebih dikenal dengan desa. Lawangk kampongk merupakan sebuah sistem penggolongan beberapa keluarga berdasarkan pintu-pintu rumah batangk (rumah panjang). Pemilihan serta penetapan lawangk kampongk yang akan menjadi panitia atau tuan rumah pelaksanaan ritual babantant kamponk dilakukan satu tahun sebelumnya atau disaat penutupan ritual babantant kamponk pada tahun terakhir. Ini dilakukan untuk memberi waktu banyak kepada panitia pelaksana atau tuan rumah dalam mempersiapkan ritual tersebut demi kesuksesan acara babantant kamponk.  
Meskipun masyarakat kampung Sepotong tidak lagi tinggal di rumah batangk, sistem pembagian keluarga berdasarkan lawangk masih tetap lestari sampai saat ini. Menurut penuturan nara sumber  Bapak Thentek dan Bapak Siun, sampai saat ini lawangk kampongk di kampong Sepotong berjumlah 17 lawangk yang terdiri dari  13 lawangk asli dan 4 lawangk gantongk. Lawangk asli adalah lawangk yang berasal dari rumah batangk Ulu Tank Kambulok, yakni; lawangk Singo, lawangk Jerot, lawangk Jai, lawangk Santan, lawangk Domong, lawangk Kanduroh, lawangk Rajo, lawangk Kanjau, lawangk Tingang, lawangk Kek Lintang, lawangk Borok (Pendek Ikok), dan lawangk Kalambu Asap. Sedangkan lawangk gantongk adalah lawang yang memisahkan diri dari lawang asli atau lawang yang berasal dari daerah lain, meliputi: lawangk Batu Tabok, lawangk Kek Panjang, lawangk Bander, serta lawangk Mangku.
Panitia pelaksana atau tuan rumah ritual babantant kamponk tahun 2008 adalah lawangk Pa’ok yang diketuai Bapak Oder. “Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi adat istiadat, menjadi tuan rumah pelaksana babantant kamponk wajib hukumnya. Masyarakat Sepotong telah memberikan kepercayaan kepada kami (lawang Pa’ok), jadi kami tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan ini, bahkan satu bulan sebelum pelaksanaan, kami sudah melakukan berbagai persiapan, seperti napuk tuak (memproduksi tuak), mendirikan penangker dan sebagainya”, ungkap Bapak Oder kepada Bular.
Rangkaian acara ritual babantant kamponk dibagi menjadi lima (5) rangkaian acara yaitu malam dudok suroh, ari karejo, malam dudok gawai, ari bosoi babantant kamponk serta acara penutup ngarumbak balai. Waktu untuk menyelesaikan seluruh rangkaian acara dibutuhkan waktu 10 hari.
Ritual babantant kamponk pertama-tama dimulai dengan acara dudok suroh. Upacara dudok suroh diisi dengan pembagian tugas atau kerja sebelum, sesaat, dan sesudah pelaksanaan babantant kamponk. Tujuan utama pembagian tugas ini agar pelaksanaan babantant kamponk terlaksana secara sistematis dan terkoordinasi. Bentuk tugas yang dibebankan misalnya menjadi dukun, mencari bahan-bahan perlengkapan adat, mencari sayur mayur, memainkan musik gamal (begamal) dan sebagainya. Acara dudok suroh dilaksanakan pada malam hari sehingga acara ini lebih dikenal dengan sebutan malam dudok suroh.
Ari karejo adalah persiapan satu hari menjelang pelaksanaan upacara puncak dari babantant kamponk. Sesuai namanya (ari = hari; karejo = kerja), ari karejo diisi dengan bekerja. Kerja untuk persiapan pelaksanaan upacara puncak antaralain baragas, masak calun, masak parondangk  dan sebagainya. Disela-sela kegiatan baragas, biasanya diisi dengan permainan musik tradisi yaitu gondang Allah. Secara umum, ari karejo merupakan kegiatan untuk mempersiapkan berbagai hidangan pesta yang akan dihidangkan pada saat upacara puncak babantant kamponk.
Rangkaian acara berikutnya adalah dudok gawai. Dudok gawai dilaksanakan pada malam menjelang pelaksanaan ritual puncak babantant kamponk. Dudok gawai bisa dikatakan sebagai permulaan upacara puncak dari babantant kamponk karena dalam acara dudok gawai  dilakukan prosesi penggantungan tanggok Duato oleh dukun. Tanggok Duato adalah sebuah tempat berupa anyaman dari bambu ditutupi kain batik yang berfungsi untuk meletak sesajian untuk Duato. Acara dudok gawai  juga diisi dengan hiburan musik tradisi yaitu bagamal dan acara minum tuak. Konon, ini dilakukan sebagai ungkapan syukur dan terimaksih atas hasil dan jerih payah selama ari karejo. Rangkaian acara dudok gawai yang dilakukan pada malam hari membuat acara ini sering disebut juga dengan malam dudok gawai.    
Keesokan harinya, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembuatan balai oleh empat (4) orang petugas yang sudah ditunjuk saat malam dudok suroh. Jumlah petugas empat orang berarti perwakilan empat lawang. Uniknya, dari ke empat orang petugas ini harus terdiri dari dua petugas lama dan dua petugas baru. Petugas lama yang dimaksud adalah perwakilan lawang tuan rumah pelaksana terdahulu dan petugas baru adalah perwakilan lawang tuan rumah pelaksana babantant kamponk yang akan datang.
Ukuran balai sendiri tidak terlalu besar, yaitu sekitar 30 cm x 30 cm dengan empat batang bambu (poring) sebagai tiang utama, masing mempunyai panjang 3 meter. Keempat tiang utama ditanam di tanah membentuk empat bujur sangkar dengan tingkat kemiringan tiang sekitar 15 derajat. Setelah pembuatan kerangka balai selesai, balai kemudian dilengkapi dengan berbagai macam jenis aksesoris adat lainnya, misalnya kain batik, bendera, daun sabangk, daun berbagai jenis pohon buah-buahan dan sebagainya. Selanjutnya, balai diisi dengan perlengkapan upacara adat  babantant kamponk berupa sesajian, tuak, peralatan berladang dan sebagainya. Rangkaian acara sehari penuh ini disebut dengan ari bosoi.
Selain diisi dengan pembuatan balai, rangkaian acara pada ari bosoi berupa sungguhan makanan dan minuman kepada seluruh warga kampung oleh tuan rumah. Setelah itu, puncak acara babantant kamponk pun siap dilaksanakan. Rangkaian acara puncak ini dibuka dengan tradisi nsangan dan pembacaan mantera oleh dukun. Kemudian dilanjutkan dengan acara minum tuak babantant dan menari mengelilingi balai seraya nembang diriingi musik gamal. Rangkaian acara puncak ditutup dengan acara basalobar (rapat akbar). Dalam acara basalobar ini disampaikan laporan pertanggungjawaban acara serta penentuan atau penunjukan tuan rumah pelaksana babantant kamponk tahun berikutnya.
Setelah jeda beberapa hari, rangkaian acara babantant kamponk dilanjutkan dengan upacara ngarumbak balai. Upacara ngarumbak balai adalah ritual adat membongkar balai yang sudah digunakan pada saat acara puncak beberapa hari sebelumnya.  babantan kampong. Upacara ngarumbak balai ini diisi dengan acara minum tuak dan bagamal atau nganjant. Upacara ngarumbak balai merupakan rangkaian acara terakhir atau penutup dari seluruh rangkaian acara babantant kamponk.


Ritual seperti babantant kamponk ini sudah semestinya terus dilaksanakan agar jangan sampai generasi muda kehilangan jejak. “Ritual mengingatkan kita bahwa sesuatu budaya warisan nenek moyang perlu dijaga supaya tetap lestari”, ujar Bapak Thentek seraya menutup wawancara dengan Bular. (oleh: Darwis Alfonsus, dimuat dalam Majalah Bular edisi Desember 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Putri Kedua, Maria Atira