‘Babantant
Kamponk’,
Ritual Bersih Kampung Masyarakat Adat Sepotong
Pekan ketiga Juli 2008 menjadi momen yang sangat berarti
bagi Masyarakat Adat Kampong Sepotong. Pasalnya, segenap masyarakat Kampung
Sepotong berkumpul untuk melaksanakan
Upacara Adat Babantant Kamponk,
yakni ritual adat tahunan yang tertinggi dan penuh nuansa sakral untuk
membersihkan Kampong Sepotong dari berbagai macam mara bahaya akibat pelanggaran
pantangan (pantang-ponti) yang dapat mengganggu
kelangsungan hidup masyarakatnya. Babantant
kamponk merupakan salah satu wujud
doa masyarakat kepada Duato (Tuhan) untuk mengampuni dosa, menjaga, dan
memelihara mereka selama kurun waktu satu tahun ke depan.
Ritual babantant kamponk
Sepotong setiap tahunnya dilaksanakan oleh salah satu lawangk kampongk. Lawangk
kampongk berasal dari bahasa Sepotong yang terdiri dari dua kata yaitu ‘lawangk’ dan ‘kampongk’. Lawangk
berarti pintu, sedangkan kampongk
adalah kampung atau sekarang ini lebih dikenal dengan desa. Lawangk kampongk merupakan sebuah sistem
penggolongan beberapa keluarga berdasarkan pintu-pintu rumah batangk (rumah panjang). Pemilihan serta penetapan lawangk kampongk yang akan menjadi
panitia atau tuan rumah pelaksanaan ritual babantant
kamponk dilakukan satu tahun sebelumnya atau disaat penutupan ritual babantant kamponk pada tahun terakhir.
Ini dilakukan untuk memberi waktu banyak kepada panitia pelaksana atau tuan
rumah dalam mempersiapkan ritual tersebut demi kesuksesan acara babantant kamponk.
Meskipun masyarakat kampung Sepotong tidak lagi tinggal di rumah batangk, sistem pembagian keluarga
berdasarkan lawangk masih tetap lestari
sampai saat ini. Menurut penuturan nara sumber Bapak Thentek dan Bapak Siun, sampai saat ini lawangk kampongk di kampong Sepotong berjumlah
17 lawangk yang terdiri dari 13 lawangk
asli dan 4 lawangk gantongk. Lawangk asli adalah lawangk
yang berasal dari rumah batangk Ulu
Tank Kambulok, yakni; lawangk Singo, lawangk Jerot, lawangk Jai, lawangk
Santan, lawangk Domong, lawangk Kanduroh, lawangk Rajo, lawangk Kanjau, lawangk
Tingang, lawangk Kek Lintang, lawangk Borok (Pendek Ikok), dan lawangk Kalambu
Asap. Sedangkan lawangk gantongk adalah lawang yang memisahkan diri dari lawang
asli atau lawang yang berasal dari daerah lain, meliputi: lawangk Batu Tabok, lawangk
Kek Panjang, lawangk Bander, serta lawangk Mangku.
Panitia pelaksana atau tuan rumah ritual babantant kamponk tahun 2008 adalah
lawangk Pa’ok yang diketuai Bapak Oder. “Sebagai masyarakat yang menjunjung
tinggi adat istiadat, menjadi tuan rumah pelaksana babantant kamponk wajib hukumnya. Masyarakat Sepotong telah
memberikan kepercayaan kepada kami (lawang Pa’ok), jadi kami tidak akan
menyia-nyiakan kepercayaan ini, bahkan satu bulan sebelum pelaksanaan, kami
sudah melakukan berbagai persiapan, seperti napuk
tuak (memproduksi tuak), mendirikan penangker
dan sebagainya”, ungkap Bapak Oder kepada Bular.
Rangkaian acara ritual babantant
kamponk dibagi menjadi lima (5) rangkaian acara yaitu malam dudok suroh,
ari karejo, malam dudok gawai, ari bosoi babantant
kamponk serta acara penutup ngarumbak balai. Waktu untuk menyelesaikan
seluruh rangkaian acara dibutuhkan waktu 10 hari.
Ritual babantant
kamponk pertama-tama dimulai dengan acara dudok suroh. Upacara dudok
suroh diisi dengan pembagian tugas atau kerja sebelum, sesaat, dan sesudah pelaksanaan
babantant kamponk. Tujuan utama
pembagian tugas ini agar pelaksanaan babantant
kamponk terlaksana secara sistematis dan terkoordinasi. Bentuk tugas yang
dibebankan misalnya menjadi dukun, mencari bahan-bahan perlengkapan adat,
mencari sayur mayur, memainkan musik gamal (begamal) dan sebagainya. Acara dudok suroh dilaksanakan pada malam hari
sehingga acara ini lebih dikenal dengan sebutan malam dudok suroh.
Ari karejo adalah persiapan satu hari menjelang pelaksanaan upacara
puncak dari babantant kamponk. Sesuai
namanya (ari = hari; karejo = kerja), ari
karejo diisi dengan bekerja. Kerja untuk persiapan pelaksanaan upacara
puncak antaralain baragas, masak calun, masak parondangk dan sebagainya. Disela-sela
kegiatan baragas, biasanya diisi
dengan permainan musik tradisi yaitu gondang
Allah. Secara umum, ari karejo merupakan
kegiatan untuk mempersiapkan berbagai hidangan pesta yang akan dihidangkan pada
saat upacara puncak babantant kamponk.
Rangkaian acara berikutnya adalah dudok gawai. Dudok gawai dilaksanakan pada malam menjelang
pelaksanaan ritual puncak babantant
kamponk. Dudok gawai bisa
dikatakan sebagai permulaan upacara puncak dari babantant kamponk karena dalam acara dudok gawai dilakukan prosesi
penggantungan tanggok Duato oleh
dukun. Tanggok Duato adalah sebuah tempat
berupa anyaman dari bambu ditutupi kain batik yang berfungsi untuk meletak
sesajian untuk Duato. Acara dudok gawai juga diisi dengan hiburan musik tradisi yaitu bagamal dan acara minum tuak. Konon, ini
dilakukan sebagai ungkapan syukur dan terimaksih atas hasil dan jerih payah
selama ari karejo. Rangkaian acara dudok gawai yang dilakukan pada malam
hari membuat acara ini sering disebut juga dengan malam dudok gawai.
Keesokan harinya, rangkaian acara dilanjutkan dengan
pembuatan balai oleh empat (4) orang
petugas yang sudah ditunjuk saat malam
dudok suroh. Jumlah petugas empat orang berarti perwakilan empat lawang.
Uniknya, dari ke empat orang petugas ini harus terdiri dari dua petugas lama
dan dua petugas baru. Petugas lama yang dimaksud adalah perwakilan lawang tuan
rumah pelaksana terdahulu dan petugas baru adalah perwakilan lawang tuan rumah
pelaksana babantant kamponk yang akan
datang.
Ukuran balai sendiri
tidak terlalu besar, yaitu sekitar 30 cm x 30 cm dengan empat batang bambu (poring) sebagai tiang utama, masing
mempunyai panjang 3 meter. Keempat tiang utama ditanam di tanah membentuk empat
bujur sangkar dengan tingkat kemiringan tiang sekitar 15 derajat. Setelah
pembuatan kerangka balai selesai, balai kemudian dilengkapi dengan berbagai
macam jenis aksesoris adat lainnya, misalnya kain batik, bendera, daun sabangk, daun berbagai jenis pohon
buah-buahan dan sebagainya. Selanjutnya, balai
diisi dengan perlengkapan upacara adat babantant kamponk berupa sesajian, tuak,
peralatan berladang dan sebagainya. Rangkaian acara sehari penuh ini disebut
dengan ari bosoi.
Selain diisi dengan pembuatan balai, rangkaian acara pada ari
bosoi berupa sungguhan makanan dan minuman kepada seluruh warga kampung
oleh tuan rumah. Setelah itu, puncak acara babantant
kamponk pun siap dilaksanakan. Rangkaian acara puncak ini dibuka dengan
tradisi nsangan dan pembacaan mantera
oleh dukun. Kemudian dilanjutkan dengan acara minum tuak babantant dan menari mengelilingi
balai seraya nembang diriingi musik gamal.
Rangkaian acara puncak ditutup dengan acara basalobar
(rapat akbar). Dalam acara basalobar ini
disampaikan laporan pertanggungjawaban acara serta penentuan atau penunjukan tuan
rumah pelaksana babantant kamponk tahun
berikutnya.
Setelah jeda beberapa hari, rangkaian acara babantant kamponk dilanjutkan dengan upacara
ngarumbak balai. Upacara ngarumbak balai adalah ritual adat
membongkar balai yang sudah digunakan
pada saat acara puncak beberapa hari sebelumnya. babantan kampong. Upacara ngarumbak balai ini diisi dengan acara
minum tuak dan bagamal atau nganjant. Upacara ngarumbak balai merupakan rangkaian acara terakhir atau penutup
dari seluruh rangkaian acara babantant
kamponk.
Ritual seperti babantant
kamponk ini sudah semestinya terus dilaksanakan agar jangan sampai generasi
muda kehilangan jejak. “Ritual mengingatkan kita bahwa sesuatu budaya warisan
nenek moyang perlu dijaga supaya tetap lestari”, ujar Bapak Thentek seraya
menutup wawancara dengan Bular. (oleh: Darwis Alfonsus, dimuat dalam Majalah Bular edisi Desember 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar